Perbedaan Bank volume dan Loose Volume Dalam Perhitungan Galian C, Berikut Penjelasannya - PT. Digital Global Eksplorasi

Perbedaan Bank volume dan Loose Volume Dalam Perhitungan Galian C, Berikut Penjelasannya

Perbedaan Bank volume dan Loose Volume Dalam Perhitungan Galian C, Berikut Penjelasannya

Digital Eksplorasi – Hai, Pernah nggak sahabat eksplorasi di lapangan abis gali tanah pake excavator, eh volume tanah yang keluar malah lebih banyak dari hitungan awal? Atau pas mau urug tanahnya malah kurang padahal dari perhitungan cukup? Kalau sahabat eksplorasi anak teknik sipil, kontraktor, atau yang sering main proyek galian C, pasti pernah ngerasain momen “plisss” ini. Ini bukan salah hitung kantor, tapi soal beda Bank Volume dan Loose Volume. Di lapangan, tanah yang masih di gunung atau tempat aslinya itu padet banget. Begitu di ekskavasi, dia langsung “mengembang” kayak gorengan dikasih ragi. Kalau gak paham bedanya, siap-siap aja anggaran proyek jebol. Yuk, kita bedah tuntas biar sahabat eksplorasi gak kena zonk!

Apa itu Bank Volume dan Loose Volume ?

Bank Volume atau Bank Cubic Meter (BCM) itu volume material dalam kondisi asli masih di tempat asalnya (in-situ), padet dan belum tersentuh alat berat . Sementara Loose Volume atau Loose Cubic Meter (LCM) itu volume material setelah digali dan dipindahkan, yang udah mengembang karena ada rongga udara di antara partikel-partikelnya . Intinya gini bro, tanah yang tadinya 1 m³ di gunung, pas udah digali bisa jadi 1,2 m³ atau lebih tergantung jenis materialnya ini yang namanya swell factor . Jadi jangan sampe salah hitung ya, karena yang diangkut truk itu dalam kondisi loose, bukan ban

Baca Juga :  SPPT Dibuat Oleh Siapa? - Panduan Lengkap

Kenapa Bank Volume dan Loose Volume Itu Penting Buat Proyek

Berikut ini beberapa alasan kenapa bank volume dan loose volume itu penting banget buat proyek sahabat eksplorasi:

Bikin Hitungan Volume Material Akurat

Bayangin gali tanah di gunung di kertas volume cuma 1000 m³, tapi pas digali jadi 1250 m³. Ini soal swell factor. Dengan paham beda BCM dan LCM sahabat eksplorasi  bisa hitung volume keluar presisi. Nggak ada lagi istilah “kok kekurangan” atau “kok kelebihan” di lapangan.

Ngebantu Perencanaan Angkutan dan Jumlah Truk

Kapasitas truk diukur dalam kondisi loose volume (material udah mengembang), bukan bank. Kalau pesan truk buat angkut 1000 m³ tapi material jadi 1250 m³, sahabat eksplorasi bakal kurang 250 m³. Hitung swell factor dulu biar operasional angkutan mulus.

Menghindari Pembengkakan Anggaran

Perbedaan BCM dan LCM berdampak ke biaya operasional sewa alat berat, bahan bakar, angkutan truk. Kalau hitung cuma berdasarkan bank tanpa faktor pengembangan, biaya bisa kurang 20-30%. Contoh: estimasi Rp100 juta, riil bisa tembus Rp120-130 juta.

Nentuin Produktivitas Alat Berat dengan Realistis

Excavator atau dozer produktivitasnya diukur dalam BCM per jam, berdasarkan volume material kondisi asli belum digali. Kalau pake patokan volume loose, hitungan bakal terlalu optimis. Akibatnya, prediksi durasi dan jumlah alat bisa meleset.

Bikin Perencanaan Timbunan dan Pemadatan Mateng

Ini juga penting buat timbunan. Masukin shrinkage factor. Pas sahabat eksplorasi urug dan padatkan, volume material menyusut. Material 1000 m³ (BCM) setelah dipadatkan bisa cuma jadi 900 m³. Kalau nggak paham, material yang disiapin bisa kurang dan sahabat eksplorasi harus belanja tambahan.

Perbedaan Bank Volume dan Loose Volume

Berikut tabel perbandingan bank volume dan loose volume yang ada di perhitungan galian c:

Baca Juga :  Apa Bedanya Sertifikat BNSP dan Kemnaker? Semua yang Perlu Anda Ketahui
Aspek Bank Volume Loose Volume
Arti Gaulnya Material masih asli di tempatnya, belum digali, masih padet kayak di gunung Material udah digali dan dipindah, volumenya mengembang karena ada rongga udara
Kondisi Fisik Padat, padet, rapat, nggak ada rongga udara antar partikel (undisturbed) Lebih gembur, volume membesar karena struktur material berantakan kena ekskavasi
Lokasi Masih di lokasi sumber (in-situ), belum tersentuh alat berat Udah di stockpile, di bak truk, atau di tempat penampungan sementara
Faktor Pengaruh Dihitung berdasarkan desain awal atau data topografi Dipengaruhi swell factor alias faktor pengembangan—bisa 10-50% tergantung jenis material
Rumus Konversi Patokan awal buat ngitung cadangan material *Loose Volume = Bank Volume × (1 + Swell Factor)*
Kegunaan Buat Proyek Estimasi awal galian, dasar perhitungan produksi alat berat Ngatur kebutuhan truk angkut, kapasitas stockpile, dan biaya logistik
Ilustrasi Biar Paham 1 m³ tanah di tebing (BCM) Bisa jadi 1,2 – 1,5 m³ setelah digali (LCM), tergantung tanah liat atau batu

Kapan Menggunakan Bank Volume dan Loose Volume

Berikut ini waktu krusial yang wajib sahabat eksplorasi perhatiin:

Estimasi Awal dan Perencanaan Proyek

Di awal proyek pas ngitung volume galian dari gambar desain dan data topografi, pakai BCM. Karena BCM itu volume material kondisi asli di tempatnya (in-situ), belum digali. Ini patokan utama buat hitung berapa banyak material yang bakal digali dari sumber.

Pengangkutan dan Armada Truk 

Pas udah mulai gali dan mau ngangkut pake truk, harus pake LCM. Material yang udah digali volumenya mengembang karena rongga udara ini swell factor. Kapasitas bak truk diukur dalam kondisi loose bukan bank. Rumusnya: Loose Volume = Bank Volume × (1 + Swell Factor).

Baca Juga :  Mengenal Kelebihan dan Kelemahan Drone Fixed Wings

Produktivitas Alat Berat 

Excavator, dozer, loader produktivitasnya diukur dalam BCM per jam, bukan LCM per jam. Kemampuan alat dihitung berdasarkan volume material kondisi asli sebelum digali. Kalau pake patokan volume loose, hitungan terlalu optimis dan prediksi durasi proyek meleset.

Perencanaan Timbunan dan Pemadatan

Buat pekerjaan urugan atau timbunan yang butuh pemadatan, pakai Compacted Cubic Meter (CCM). Material yang dipadatkan volumenya menyusut karena rongga udara ilang ini shrinkage factor. Contoh: 1 BCM tanah setelah dipadatkan bisa jadi 0,9 CCM.

Perhitungan Biaya dan Anggaran

Biaya galian dihitung berdasarkan BCM karena itu volume yang digali dari sumber. Biaya angkutan dihitung berdasarkan LCM karena truk ngangkut material dalam kondisi loose. Kalau campur aduk, anggaran proyek bisa jeblok 20-30%.

Kesimpulan

Sahabat eksplorasi jangan pernah anggap remeh bedanya Bank Volume sama Loose Volume. Bukan cuma angka di kertas tapi soal nyawa proyek dari hitungan galian, armada truk, produktivitas alat berat, sampai timbunan dan budget. Paham kapan pake BCM dan LCM, proyek galian C bakal lebih aman, efisien, dan dompet tetap tebal. Ingat, tanah itu hidup bisa mengembang kayak gorengan dikasih ragi dan menyusut kalau dipadatkan. Jangan sampe salah langkah hitung cermat biar nggak zonk di lapangan!