Digital Eksplorasi – Hai, Sahabat eksplorasi bayangkan drone yang bisa mapping sambil terbang real-time tanpa perlu GPS bukan lagi fiksi ilmiah. SLAM (Simultaneous Localization and Mapping) adalah teknologi yang bikin drone bisa “ngelidar” sendiri posisinya sambil bikin peta 3D lingkungan sekitar. Konsepnya sederhana tapi eksekusinya kompleks: drone harus terus menghitung posisinya sendiri dalam peta yang sedang dibuatnya, ibarat navigasi sambil menggambar peta dengan mata tertutup sebagian. Teknologi ini sangat penting untuk pemetaan di area GPS-denied seperti dalam gedung, hutan lebat, atau lokasi bencana. Drone SLAM menggunakan kombinasi sensor LiDAR, kamera, dan IMU untuk memahami lingkungannya secara real-time, lalu mengoptimalkan jalur terbangnya agar efisien dan akurat
Trajectory Drone dalam SLAM
Trajectory dalam SLAM itu ibarat kita lagi buat story map yang keren nggak asal “wah” tapi harus punya strategi. Kalau drone cuma terbang ngawur, sistem SLAM bakal kelimpungan nyambung-nyambungin titik data, hasil peta jadi berantakan kayak puzzle yang ketinggalan sebagian. Makanya, kita ngitung trajectory dengan matang, mulai dari atur pola terbang zig-zag atau spiral, sampe mikro-miripin variabel kayak kecepatan, overlap gambar, dan jarak aman biar sensor lidar atau kamera bisa nyerap data secara optimal. Tujuannya satu: biar drone bisa “ngerasain” lingkungan secara lengkap dalam sekali terbang, efisien baterai, dan yang paling penting, hasil mapping-nya detail banget tanpa ada area yang kelewat soalnya kan sayang banget kudu bolak-balik cuma karena rute awal nggak keitung dengan tepat.
Data Dasar Wajib Buat Ngitung Trajectory Drone
| Data Kunci | Sensor yang Ngumpulin | Fungsinya Buat Trajectory |
|---|---|---|
| Posisi & Orientasi (Pose) | IMU, GPS (kalo ada) | Jadi titik awal tiap gerakan, biar tau lagi di mana dan lagi ngadep ke mana. |
| Gerakan Instan | Akselerometer & Gyro di IMU | Ngasih data perpindahan kasar antar frame, kaya “aku barusan geser ke kiri sekian cm”. |
| Visual Landmark | Kamera (RGB/Depth) | Nangkep titik-titik unik di lapangan (kaya pojok bangunan) buat jadi “penanda” buat navigasi dan koreksi posisi. |
| Pemetaan 3D | LiDAR / Stereo Camera | Ngasih cloud titik 3D yang akurat, biar drone bisa “ngeliat” bentuk medan dan hindarin tabrakan. |
| Waktu (Timestamp) | Sistem Clock | Nyinkronin semua data di timeline yang sama, biar data IMU dan gambar ga keacakan pas diolah. |
Rumus Inti
Berikut ini rumus inti trajectory di SLAM:
State Vector
Bayangin drone punya “KTP digital” di setiap detik terbangnya. Itu namanya state vector, disimpen dalam format: x_t = [p_t, q_t]^T
Yang artinya:
-
p_t = Posisi (x, y, z) basically alamat real-time drone di udara, kayak koordinat di Google Maps.
-
q_t = Orientasi pakai quaternion — buat nangkep rotasi drone tanpa drama, lebih smooth dibanding pake Euler angle yang bikin pusing software.
Observation Model
Nah, pas drone nge-spot suatu objek atau landmark (l_j), dia langsung bikin prediksi hasil pengukurannya: z_t,j = h(x_t, l_j) + v_t
Artinya:
-
h = fungsi sensor — representasi matematis dari “mata” drone (kamera/LiDAR).
-
v_t = noise — faktor gangguan kayak angin, cahaya redup, atau sensor yang lagi “moody”.
Optimization
Intinya, SLAM tuh kayak algoritma yang terus nge-refine data biar semuanya klop. Tujuannya cuma satu: min Σ_t || z_t − h(x_t, l_j) ||²
Drone lagi berusaha minimalin gap antara “yang diprediksi” sama “yang beneran kejadian”. Ini kayak nge-filter IG biar feed tetep aesthetically pleasing semua data disesuain biar cocok sama realita lapangan.
Analisis Jalur Terbang Buat Optimasi Area Pemetaan
Berikut ini simulasi analisinya:
Misal drone sahabat eksplorasi punya kamera FOV 70° dan sahabat eksplorasi terbangin di ketinggian 20 meter. Dari sini bisa diitung jangkauan satu jepretan:
-
Lebar area per foto = 2 * (20m * tan(35°)) ≈ 28 meter.
-
Jadi satu foto nutup kira-kira 28m x 21m (tergantung rasio kameranya).
Trick Biar Foto Nyambung: Overlap!
Biar software bisa nyatuin semua foto jadi peta yang mulus, butuh:
-
Overlap (tumpang depan-belakang): minimal 70%
-
Sidelap (tumpang samping): minimal 60%
-
Jarak antar foto = 28m * (1 – 0.7) = 8.4 meter (artinya drone harus jepret tiap 8.4 meter maju).
-
Jarak antar jalur = 21m * (1 – 0.6) = 8.4 meter juga.
Prakteknya di Lapangan:
Area 100m x 100m jadi butuh sekitar 12 jalur grid. Total jarak tempuh minimal buat motong samping aja udah 1.2 km belum termasuk putar balik. Nah, dari sini keliatan beban baterai-nya.
Tantangan Nyata Ngitung Trajectory SLAM
Berikut ini tantangan umum hitung trajectory SLAM buat drone:

