Metode Cross Section Untuk Perhitungan Sumber Daya Batu Granit, ini Hitungannya - PT. Digital Global Eksplorasi

Metode Cross Section Untuk Perhitungan Sumber Daya Batu Granit, ini Hitungannya

Metode Cross Section Untuk Perhitungan Sumber Daya Batu Granit, ini Hitungannya

Digital Eksplorasi – Bayangin sahabat eksplorasi berdiri di quarry 11 hektar, matahari terik, debu batu campur keringet nempel di baju safety. Itu sehari-hari tim geoteknik di tambang granit kayak WIUP CV. Mega Makmu atau PT. Mandiri Karya Makmur . Di depan mata ada dinding batu granit keras puluhan meter. Suara bor + gemuruh alat berat jadi backsound. PR gede: cadangan batu granit di sisa umur tambang berapa? Jangan sampe asal-asalan, bisa boncos. Solusinya? Para insinyur tambang sekarang masih ngandelin Metode Cross Section. Sebelum lanjut ngitung, unified dulu persepsinya. Artikel ini dirangkum dari jurnal terbaru + best practice + pengalaman lapangan anak teknik tambang jaman now!

Konsep Dasar Metode Cross Section yang Wajib Sahabat Eksplorasi Kuasai

Berikut ini beberapa konsep dasar metode cross section yang wajib sahabat eksplorasi kuasai:

Bikin Sayatan Tegak Lurus

Buat irisan vertikal yang motong tubuh batuan secara tegak lurus arah memanjang endapan. Ditarik di peta topografi dengan jarak 15m, 20m, atau 25m. Tiap sayatan jadi kerangka hitung volume per segmen. Kayak motong kue lapis biar keliatan isinya.

Ukur Luas Penampang

Setelah dapet penampang, hitung luas area batuan di tiap potongan. Pakai software kayak Surpac, Minescape, atau AutoCAD. Satuannya m². Makin rapat titik bor, makin akurat. Fakta: Di PT. Sulenco Wibawa Perkasa untuk batu andesit, volume awal 162.043,73 m³ atau setara 428.767,70 ton.

Baca Juga :  Apakah Bisa Membuat Sertifikat Tanah Tanpa AJB? Simak Penjelasan Lengkapnya di Sini

Tentukan Jarak Antar Sayatan

Jarak (L) antara dua penampang sejajar. Bisa beda tergantung kompleksitas geologi. Makin rumit bentuk endapan, makin rapat jaraknya. Standar tambang granit: 15-25 meter. Catatan: Kalau bentuk permukaan berubah drastis di antara dua section, metode ini bisa meleset.

Pilih Rumus Volume

Mean Area (simpel): V = L/2 × (A₁ + A₂), Prismoidal (akurat buat bentuk kompleks): V = L/3 × (A₁ + A₂ + √A₁×A₂) Mayoritas perusahaan pilih Mean Area karena cukup akurat buat endapan granit yang massif.

Totalin Semua Blok

Jumlahkan semua segmen. Hasil akhir total sumber daya dalam BCM atau tonase (dikalikan berat jenis granit 2,6-2,8 ton/m³). Contoh: Di PT. Bintang Mahakam Energy, cross section vs metode 2 Surface beda sekitar 3.000+ BCM buat volume overburden.

Tahapan Perhitungan Metode Cross Section

Berikut ini beberapa tahapan perhitungan metode cross section:

Tahap Aksi di Lapangan Tools yang Dipake Keterangan
1 Buat garis sayatan di peta topografi sejajar dengan jarak tetap (15-25 m), tegak lurus arah memanjang endapan granit. Peta topografi, software mine planning

(Surpac, Minescape, Datamine)

Makin rapat potongannya, makin detail isianya!
2 Ambil data titik bor/singkapan di setiap garis sayatan buat tau ketebalan dan batas granit vs tanah penutup. GPS, Total Station, alat bor, drone foto udara Jangan asal comot datanya, udah kayak blind date aja. Sahabat eksplorasi harus tau persis posisi dan kedalaman granitnya!
3 Gambar profil penampang melintang buat tiap sayatan, tampilin bentuk fisik badan granit dari permukaan sampe batas bawah. AutoCAD, Surpac, atau kertas milimeter blok

(untuk old school)

Hasilnya kayak foto rontgen bumi, keliatan mana granit asli mana yang cuma tanah doang.
4 Hitung luas area granit di tiap penampang pakai metode planimeter atau digital di software. Software AutoCAD (area command), Surpac, atau planimeter manual Pastiin boundary granitnya jelas, jangan sampe kelebihan ngitung overburden.
5 Terapkan rumus volume antar dua sayatan (rata-rata luas × jarak). Standar pake Mean Area karena simpel dan cukup akurat buat granit massif. Kalkulator, Excel, atau software khusus Rumusnya: V = (L/2) × (A1 + A2). Sahabat eksplorasi cuma perlu kali, bagi, terus totalin.
6 Jumlahkan volume dari semua segmen buat dapetin total sumber daya granit dalam satuan BCM (Bank Cubic Meter) atau ton (× berat jenis 2,6-2,8 ton/m³). Microsoft Excel, database tambang Total akhir = modal buat perusahaan tau umur tambang. Salah hitung perusahaan boncos, sahabat eksplorasi yang kena getahnya!

Contoh Perhitungan Metode Cross Section Buat Batu Granit

Berikut contoh perhitungangan metode cross section buat batu granit:

Sahabat eksplorasi jadi surveyor di sebuah WIUP seluas 8 hektar di daerah Sulawesi. Udah selesai tahap eksplorasi, sekarang waktunya ngitung cadangan granit di blok A pake metode cross section.

Data yang Tersedia

Item Nilai
Jarak antar sayatan (L) 20 meter
Luas granit di Section 1 (A₁) 850 m²
Luas granit di Section 2 (A₂) 1.100 m²
Berat jenis granit 2,7 ton/m³

Hitung Volume Pakai Mean Area

Rumus:

V=L/2×(A1+A2)

Masukin angkanya:

V=20/2×(850+1.100)

V=10×1.950

V=19.500 m3 (BCM)

Jadi, volume granit di antara Section 1 dan Section 2 adalah 19.500 meter kubik dalam kondisi padat BCM.

Konversi ke Tonase

Biar tau beratnya karena jualan pake ton:

Tonase= Volume x Berat

Jenis

Tonase=52.650 ton

Kalau Pakai Rumus Prismoidal 

Buat perbandingan, kita coba pake rumus yang lebih akurat:

Selisih dengan Mean Area: Cuma 53 m³ (0,27%). Artinya buat granit yang bentuknya gak terlalu aneh, rumus Mean Area udah cukup akurat.

Total Keseluruhan

Misalnya sahabat eksplorasi punya 5 section dengan data begini:

Segmen Jarak (m) A₁ (m²) A₂ (m²) Volume (m³)
S1-S2 20 850 1.100 19.500
S2-S3 20 1.100 1.250 23.500
S3-S4 20 1.250 980 22.300
S4-S5 20 980 720 17.000

Total Volume = 19.500 + 23.500 + 22.300 + 17.000 = 82.300 BCM

Total Tonase = 82.300 × 2,7 = 222.210 ton

Perbandingan Metode Cross Section Dengan Metode Lain

Berikut ini beberapa perbandingan metode cross section dengan metode lainnya:

Cross Section vs Polygon

Di penelitian batubara: Cross Section = 2.157.080 ton, Polygon = 2.243.069 ton. Selisih 3,91%. Kesimpulan: Cross Section lebih baik karena errornya lebih kecil dan hasilnya konservatif gak over estimasi. Buat perencanaan produksi, ambil yang lebih kecil biar aman.

Cross Section vs Contour

Di penelitian granit Bangka: Cross Section (interval 10m) = 5.662.168 m³, Contour (interval 1m) = 4.871.332 m³.  Cross Section keluar lebih besar karena contour pake interval super rapet. Studi lain di Jatim selisihnya 175.144 m³.

Cross Section vs Triangulation

Dari US Forest Service: Triangulation punya korelasi 0,92 sama data asli, error paling kecil (MAE 0,191) tapi butuh data super padat. Buat tambang skala kecil-menengah, Cross Section lebih praktis karena gak perlu software mahal.

Cross Section vs IDW

IDW dipake buat batubara atau mineral dengan kadar gak seragam. Buat granit yang homogen, IDW agak overkill. Plus: akurat buat sebaran grade. Minus: ribet, butuh banyak data, pake software khusus.

Cross Section vs Metode Modern

Studi kasus tambang batu bara India: Cross section konvensional = 6.216.695 ton, software Minex = 5.619.278 ton, produksi aktual = 5.251.365 ton. Artinya software lebih akurat karena nangkep perubahan kecil. Tapi selisih 7% gak signifikan buat skala tambang kecil.

Kesimpulan Metode Cross Section Untuk Perhitungan Sumber Daya Batu Granit

Jadi, metode cross section udah terbukti di lapangan buat ngecek cadangan batu granit. Mulai dari bikin sayatan, ngitung luas, milih rumus, sampe totalin blok bisa pake Excel + AutoCAD gak perlu software mahal. Memang triangulation atau IDW lebih akurat tapi buat tambang skecil-menengah dengan endapan granit massif, cross section udah cukup asalkan sahabat eksplorasi disiplin ambil data titik bor dan konsisten pilih interval sayatan. Metode ini gampang diaudit, hasilnya bisa dipertanggungjawabkan ke direksi, dan bantu perusahaan gak boncos karena salah hitung cadangan.

 

 

 

 

Baca Juga :  Persetujuan Bangunan Gedung dikeluarkan oleh Dinas apa?